GMNI FISIPOL UGM

Pejuang Pemikir, Pemikir Pejuang!

Bergeraklah, Sarinah!

Oleh Frizca Rosdhiana Putri

Sejatinya sejarah keberadaan wanita adalah sejarah perjuangan. Sejak berabad-abad yang lalu, wanita telah memulai perjuangannya, baik untuk kemerdekaan dirinya sendiri sebagai manusia maupun kesetaraan hak dengan pria dalam berbagai dimensi kehidupan. Mula-mula pergerakan wanita dimulai di negara-negara Barat di mana ilmu pengetahuan saling berdialektika sehingga menghasilkan pemikiran-pemikiran baru, salah satunya tentang kesenjangan penerimaan hak antara pria dan wanita. Pergerakan ini dirintis oleh wanita-wanita pemberani yang menjadi pionir untuk mendobrak tradisi, sebut saja Abigail Smith Adams (istri Presiden AS ke II) yang menuntut terwujudnya undang-undang yang pro-wanita dan perwakilan wanita dalam parlemen, atau Theroigne de Mericourt dari Perancis yang mampu menggerakkan massa perempuan untuk menundukkan raja. Bahkan, tak usah jauh-jauh, di Indonesia lagi-lagi sejarah telah membuktikan perjuangan wanita. Lihat saja bagaimana tokoh-tokoh wanita yang menjadi panutan, seperti Ratu Sima dari Kerajaan Kalingga yang terkenal murah hati dan taat hukum, R. A Kartini sang pendobrak feodalisme, Cut Nyak Dhien yang melawan penjajahan Belanda, dan masih banyak lagi. Mereka semua merupakan sedikit dari banyak bukti bahwa pada masa lalu perempuan telah memiliki kesadaran dan kemampuan untuk memerdekakan dirinya sendiri, berperan aktif dalam kemajuan bangsa, dan menuntut hak yang layak mereka terima.

Wanita, bukan lagi menjadi warga negara kelas dua. Wanita adalah manusia yang setara dengan pria, yang seharusnya mendapatkan hak-hak yang sama dalam berbagai aspek. Dewasa ini, sebagian besar wanita telah menyadari pentingnya kesetaraan itu. Pergerakan-pergerakan telah terjadi bahkan sejak sebelum abad ke-20 hingga sekarang. Pergerakan wanita masih berlanjut, memiliki tipologi gerakan dan cita-cita perjuangan yang beragam. Pergerakan wanita ini terbagi menjadi tiga varian, yaitu pergerakan wanita feminism, pergerakan wanita neo-feminisme, dan pergerakan wanita sosialis.

Pergerakan feminisme cenderung terlalu mengagung-agungkan sosok perempuan sebagai individu dan seringkali berdampak melupakan kodrati perempuan, melupakan peran laki-laki dan perempuan yang saling melengkapi. Pergerakan ini tidak cocok dengan pergerakan perempuan rakyat jelata karena umumnya pionir pergerakan ini adalah wanita kelas atas yang mendapatkan pendidikan yang layak, sehingga mampu melihat dunia luar dan menghasilkan pemikiran feminisme. Para feminis ini cenderung tidak paham dan tidak menyentuh permasalahan-permasalahan di kalangan bawah. Di sisi lain, pergerakan neo feminis bertentangan dengan pergerakan feminis. Pergerakan neo feminis ini memiliki tujuan untuk menyempurnakan kehidupan wanita untuk menguasai sektor-sektor domestik seperti melayani suami dan beranak. Tentu saja hal ini malahan semakin membuat wanita terkungkung dalam peran yang sempit. Menurut mazhab ini, wanita memang tidak seharusnya bergerak terlalu luas agar tidak melupakan kewajiban-kewajiban utamanya sebagai wanita.

Sebagai gabungan antara keduanya, pergerakan wanita sosialis menjadi pergerakan yang cukup ideal untuk dilakukan. Pergerakan sosialis ini menekankan seimbangnya peran wanita dan pria untuk sama-sama berjuang menciptakan dunia baru di mana tidak ada ketidak adlian, pemerasan, dan ketidak setaraan. Wanita dan pria saling melengkapi kelebihan dan kekurangannya itu demi tercapainya tujuan pergerakan. Wanita dan pria sama-sama dituntut untuk memberikan kontribusi bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam hal ini wanita tetap tidak boleh melupakan kodratnya sebagai ibu maupun calon ibu, wanita tetap harus sensitive terhadap kehidupan keluarga dan lingkungannya.

Namun, permasalahan wanita di Indonesia kini bagaikan menjadi satu koin dengan dua sisi. Banyak wanita Indonesia yang telah mendapatkan kesempatan dalam mengakses pendidikan, kehidupan politik, dan ekonomi setara dengan yang diperoleh pria tetapi tidak memanfaatkan kesempatannya dengan baik. Para wanita ini tidak sedikit yang selfish, tidak mau tahu dunia luar, tidak mau tahu bahwa di Indonesia sendiri masih banyak kaum mereka yang bahkan masih memperjuangkan kemerdekaan dirinya sendiri, hidup dalam ketakutan dan ketidak adilan. Mereka sibuk dengan karir mereka, dan beranggapan bahwa dunia mereka hanya tentang arisan dan kantong belanja brand-brand ternama di sana sini. Tanpa mereka sadari, persamaan hak dan kesempatan itu telah mereka hapus dan sesungguhnya mereka kembali terkungkung dengan “kebodohan” akibat ketidak pedulian mereka.

Ya, wanita Indonesia harus (kembali) bergerak dan selalu bergerak! Memandang dunia luas di mana masih banyak wanita menerima ketidakadilan, di mana wanita masih menjadi warga negara kelas dua. Wanita-wanita Indonesia, para sarinah muda harus menjadi pionir-pionir pergerakan wanita tanpa harus meredupkan terangnya dalam kehidupan keluarga. Memperjuangkan kemerdekaan bagi mereka yang masih terpenjara oleh kebodohan, ketidak pedulian, dan kemelaratan. Jangan sampai pergerakan wanita yang telah dirintis oleh wanita-wanita hebat pada masa lalu berhenti pada saat ini. Bergeraklah, Sarinah!

Sumber Referensi:

Soekarno. 1963. Sarinah. Jakarta: Panitia Penerbit Buku-Buku Karangan Presiden Soekarno.

Swadeshi dan Massa-aksi di Indonesia

Oleh Syafril Nazarudin

Di zaman pra kemerdekaan, Soekarno pernah berpidato dan mendengungkan mengenai pentingnya pergerakan rakyat Indonesia diberi alas teori.  Salah satu contoh yang diberikan adalah teori swadeshi Mahatma Gandi. Hal ini menjadi penting karena dengan hal tersebut rakyat India bisa melawan dan bebas dari imperialisme Inggris saat itu. Swadeshi artinya mampu berdikari, mampu menciptakan produk sendiri dan mau menggunakannya. Pada hakekatnya gerakan swadeshi adalah penentangan terhadap imperialisme, di dalam praktiknya gerakan swadeshi langsung menyentuh sektor riil yaitu rakyat mulai dengan menanam kapas sendiri, memintal benang, dan menenun sendiri. Implikasinya, mereka sangat menghargai hasil karya sendiri dengan tidak mau membeli produk-produk Inggris (boycott action) . Dengan gerakan swadeshi ini maka handels-imperialisme Inggris menjadi lumpuh, karena seluruh rakyat tidak mau membeli barang-­barang buatan Inggris itu. Swadeshi akhirnya berhasil. Tetapi, apakah dua swadeshi itu sama? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka harus membuat suatu analisa tentang sifat dan hakekat modern-imperialisme di kedua negara tersebut.

Imperialisme Inggris di Hindustan dilatar belakangi terjadinya revolusi Inggris. Ia merubah cara produksi dan alat produksi lebih canggih dan efisien. Ini bisa terjadi di Inggris karena merupakan negari dengan banyak tambang, arang batu, besi, dsb. Kemudian, lahir putra-putra ingenieur. Misalnya James Watt penemu mesin uap. Hasil dari semua itu adalah tambah besarnyna produksi Inggris. Produksi barang-barang menjadi sebanyak-banyaknya. Pasar penjualan menjadi tidak cukup dalam negeri sendiri. Disni modern- imperialisme mulai bekerja. Dulu inggris hanya bersarang di Fort st. George, Bombay, dan sedikit lainnya lalu berkembang diseluruh benua hindustan. Kemudian terjadi banjir barang-barang bikinan Inggris, sehingga mematikan industri bumiputera yang subur. Rakyat India menjadi kehilangan mata pencaharian dan mencoba masuk dalam pertanian. Tetapi, hasilnya sangat rendah, tidak cukup untuk makan sesuap nasi. Imperialisme Inggris tidak ingin rakyat India melarat sekali karena mereka membutuhkan rakyat yang berdaya beli. Ia butuh kepada rakyat kelas menengah untuk menjadi jembatan antara dia dan rakyat jelata. Kemudian mengadakan colleges, high-school, universitas, dan golongan intelek sebagai intermediair (perantara). Golongan intelek tersebut justru menjadi motor penggerak untuk bangkit membuat industri sedia kala. Energi kaum menengah menjadi hebat, Inggris pun menjadi geger. Nafsu perdagangan Inggris untuk membunuh tiap-tiap saingan di India tetapi kepentingan Inggris pula melarang matinya industri bumi putera. Kepentingan ini adalah kepentingan militer atau strategi yang menuntut India harus siap dipakai sebagai basis bagi perang Asia-barat, Asia-timur, dan Asia-tengah. Sehingga, satu sisi menjaga hidupnya industri bumi putera, satu sisi menjadi musuh, satu lagi menjadi “sahabat”. Sesungguhnya perkataan Srinivasa Y. bahwa imperialisme Inggris adalah “banci”. Karena itu bumiputera hindustan tidak begitu sukar berdiri kembali.

Berbeda dengan imperialisme di Indonesia. Jika imperialisme Inggris di Hindustan tidak membunuh sama sekali semua sekutu dan butuh rakyat yang mempunyai daya beli, maka imperialisme di Indonesia merupakan landbow industrie (industri pertanian)  dan mijnbouw industrie (industri pertambangan) yang butuh kepada rakyat melarat yang suka bekerja sebagai buruh dengan upah murah. Imperialisme inggris di Hindia adalah semi-liberal, sedang di indonesia adalah orthodox dan monopolistik. Buat mereka, yang paling perlu hanyalah kaum buruh dan harga tanah. Jika kaum buruh banyak, upah akan menjadi rendah, sehingga merekalah yang untung. Belanda tidak sama dengan Inggris karena bukan suatu negara yang mempunyai syarat-syarat untuk hidup suburnya modern industrialisme. Seiring waktu, imperialisme tua berubah menjadi imperialisme modern. Bukan modal Belanda saja yang berdansa diatas bumi putera tetapi modal Inggris, Amerika, Jepang, dsb. Imperialisme indonesia terutama sekali ialah mengekspor, yang di dalam masa normal rata-rata dua kali jumlah harga kekayaan yang ia angkuti keluar daripada yang ia masukan kedalam. Maka “warna” imperialisme di indonesia itu berbeda dengan imperialisme di Hindustan, yang jumlah impor dan ekspor rata-rata sama.

Kesimpulannya bahwa politik swadeshi di indonesia tidak bisa dipakai sebagai senjata untuk melemahkan imperialisme atau untuk mendatangkan indonesia merdeka. Kita disini berhadapan dengan grondstoffen imperialisme dan kapitaal belegging imperialisme (komoditas dari imprealisme modal investasi asing) yang tidak bisa dilemahkan dengan politik swadeshi itu. Disini kita tidak mempunyai kaum menengah dan industri bumiputera seperti India yang menjadi motor penggerak melawan imperialisme. Kita tidak boleh melakukan aksi ekonomi saja dengan menomorduakan aksi politik. Tetapi makna “mendirikan” dalam swadeshi boleh dipakai untuk barang yang abstrak yakni mendirikan semangat, harapan, ideologi, yang menurut sejarah dunia akhirnya adalah satu-satunya yang bisa menggugurkan suatu stesel. Semboyan “dengan swadeshi mendatangkan kemerdekaan” itu buat Indonesia tidaklah bisa dipakai. Kemderdekaan Indonesia hanyalah bisa didatangkan dengan politik masa aktif yang berasas Marhaenisme. Tidak boleh kita hanya  meniru semboyan yang dipakai negeri lain. Pergerakan Indonesia harus memikir sendiri, mengupas seoal-soalnya sendiri, mencari semboyan sendiri, menggembleng senjata sendiri. Dengan demikian kita bisa melalui segala pemborosan tenaga.

“Perjuanganku sekarang lebih mudah dibandingkan perjuangan kalian nanti yang akan melawan bangsa kalian sendiri.” (Bung Karno)

Selamat Menempuh Hidup Baru

Postingan pertama situs Blog GmnI Komisariat Fisipol UGM ini khusus kami sampaikan untuk Bung Diasma Sandi Swandaru yang akan segera melepas masa lajangnya pada tanggal 20 Mei 2012. Berikut adalah undangan digital yang disebarkan via Facebook oleh beliau kepada para rekan kerja, keluarga, dan teman seperjuangan :

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, kawan-kawan seperjuangan, bapak dan ibu, serta rekan-rekan dari beragam suku, bangsa dan agama,

20 Mei adl momen bersejarah bagi bangsa Indonesia, disanalah pondasi awal baru lembaran bagi masa depan bangsa Indonesia, Maka Ijinkanlah kami, Oky Kurniawati dan Diasma Sandi Swandaru, disaat yang sama untuk menciptakan lembaran kehidupan baru dalam sejarah kami berdua sebagai upaya membangun pondasi utk merajut bangunan rumah tangga:

Akad nikah: Minggu, 20 Mei 2012 Pk. 08.00
Selametan: Minggu, 20 Mei 2012 Pk..11.00-14.00
Tempat : Rmh Anya di Komplek Pertamina Stadion Bima Jl Cimanuk No.44 Cirebon Jabar

Ngunduh Mantu: 9 Juni 2012. Pk. 11.00
Tempat: Rmh Diasma di Jl Kamardikan 60. Gang 4 SemboroJember Jatim

Puisi ini saya persembahkan buat Anya Garwoku (Sigaring Nyowo=Separoh nyawaku) disaat melamar pada Minggu 12-02-2012 tepat dihari Ulang Tahunku, lalu ku beri judul:

Ginong Prati Dino (Dibuat Semakin Besar Setiap Hari)

Yang Maha Kasih, berikanlah Kasih Mu agar tumbuh bersama di hati kami, melekat erat dalam jiwa yang suci sebagai dasar kami dalam mengarungi kehidupan nanti

Yang Maha Penyayang, jalinlah rasa sayang kami menjadi untaian terindah dalam merajut benang-benang kehidupan kami

Yang Maha Pencipta, perkenankanlah kami mencipta sebuah hubungan lahir batin yang penuh keharmonisan dan kedamaian sebagai mahakarya anak manusia yang penuh makna, Ginong Prati Dino

Yang Maha Pelindung, lindungilah bahtera rumah tangga dari segala ragam godaan yang menghadang agar kami menuju rahmatMu
Yang Maha Pemberi, berikanlah kami kesehatan, kemuliaan, kesejahteraan, dan kebahagiaan lahir-batin agar bisa menjalankan perintahMu dalam melaksanakan tugas kami di bumi

Yang Maha Kuasa, dengan KuasaMu kami mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Ijinkanlah kami membangun dan membina rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah, dan berikanlah kami keturunan yang baik, sehat, cerdas, dan berbakti pada orang tua agar mereka menjadi anak-anak susila, berilmu, dan bertaqwa

Segala puja dan puji hanya milik Allah SWT yang menguasai seluruh alam, cahaya Illahi yang menyatukan kami dalam ikatan yang suci.. Amin Ya Robbal Alamiin

(by Diasma Sandi Swandaru, Yogyakarta 12/02/2012)

Dengan ketulusan hati kami mohon sedikit doa, semoga ini akan melejitkan kualitas kita dalam kehidupan.. Amin

Salam hangat,
Anya&Diasma

Setinggi-tingginya Elang Garuda Terbang ia akan Kembali Sarang juga

Selamat menempuh hidup baru Bung Dias. Semoga semakin sukses dan tetap membara semangat dalam dirimu. Merdeka !

Post Navigation

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.